Gambaran Kejadian Abortus Provokatus (Bag.5)

Bookmark and Share
Gambaran Kejadian Abortus Provokatus (Bag.5)

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Setelah melakukan penelitian mengenai gambaran kejadian abortus provokatus di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar Periode Januari S.D Desember 2011 dari tanggal 25 Mei sampai dengan 2 Juni 2011 didapatkan 166 abortus dilihat dari tabel distribusi sebagai berikut :

Tabel 1 :

Gambaran Kejadian Abortus di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar Periode Januaris.d Desember 2011


Sumber : Data sekunder Rumah Sakit Umum Daerah labuang baji Makassar Berdasarkan tabel 1 menunujukkan bahwa dari 170 jumlah kejadian abortus, sebanyak 97 (57%) merupakan kasus abortus inkomplit, abortus komplit dan abortus imminens masing- masing sebanyak 23 (13,5%) , abortus provokatus sebanyak 20 (11,8%), abortus komplit sebanyak 4(2,3%), missed abortion atau abortus tertunda 2 (1,2%), dan abortus habitualis hanya 1 (0,6%) dari semua abortus.

Tabel 2 :

Gambaran Kejadian Abortus Provokatus di Rumah SakitUmum Daerah Labuang Baji Berdasarkan Umur Ibu Periode Januari – Desember 2011


Sumber : Data Sekunder Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar

Tabel 3 :

Gambaran Kejadian Abortus Provokatus di Rumah SakitUmum Daerah Labuang Baji Makassar Berdasarkan Paritas Januari – Desember 2011


Sumber : Data Sekunder Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar

B. Pembahasan

Setelah melakukan penelitian mengenai kejadian abortus provokatus Di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar Periode Januari S.D Desember 2011, berikut ini dilakukan pembahasan hasil penelitian sesuai variabel yang diteliti :

1. Kejadian Abortus Provokatus Berdasarkan Umur Ibu

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dari abortus provokatus terdapat 13 (81,2%) kasus pada umur risiko rendah(20-35 tahun) dan pada ummr risiko tinggi (<20 data-blogger-escaped-dan="">35 tahun) yaitu 3 (18,8%) kasus. Data Abortus Provokatus yang diperoleh dari Rumag Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar ternyata lebih banyak pada risiko rendah umur ibu antara 20-35 tahun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

a. Pekerjaan

Seorang ibu yang sibuk karena alasan pekerjaan akan menganggap kehamilan sebagai hal yang dapat mengganggu aktifitas atau pekerjaannya sehingga nekat melakukan tindakan apa saja untuk mengakhiri kehamilannya,

b. Sosial ekonomi

Sebuah keluarga yang tidak mempunyai penghasilan yang tetap yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya maka akan menganggap anak sebagai bebean yang akan menambah permasalahan dan biaya.

c. Status gizi

Pemenuhan gizi yang tidak tercukupi pada wanita hamil akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan karena suplai makanannya tidak tercukupi. Bila mana hal ini berkepanjangan bisa menyebabkan abortus sampai kematian janin dalam rahim.

d. Kelainan hormonal

Kelaianan hormonal dapat terjadi tanpa memandang usia seseorang wanita maka akan berpengaruh pada sistem reproduksinya. 

Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dijelaskan oleh Wikjosastro bahwa kejadian abortus lebih banyak terjadi pada umur <20 tahun dan 35 tahun karena wanita yang hamil pada umur muda (<20 tahun ) dari segi biologis perkembangan alat- alat reproduksinya belum sepenuhnya optimal dari segi psikis belum matang dalam menghadapi tuntutan beban moril, dan emosional, dari segi medis sering mendapat gangguan, sedangkan pada usia lebih dari 35 tahu, elastik dari oto-otot panggul dan sekitarnya serta alat-alat reproduksinya mengalami kemunduran, juga wanita pada usi ini besar kemungkinan mengalami komplikasi antenatal diantaranya abortus. Kesenjangan teori dengan hasil penelitian dapat disebabkan karena beberapa faktor lain juga dan karena adanya keterbatasan sampel dalam penelitian ini.

2.  Kejadian Abortus Provokatus Berdasarkan Paritas

Dari hasil penelitian didapatkan dari 16 kasus Abortus Provokatus didapatkan angka tertinggi dari faktor paritas adalah 11 kasus (68,7%) pada paritas risiko tinggi (paritas 1dan >3). Dan yang terendah adalah 5 kasus (31,3%) pada risiko rendah ( paritas 2-3).

Hal ini sama antara teori yang dikemukakan Wiknjosastro dengan data yang diperoleh. Pada teori dijelaskan bahwa kejadian Abortus Provokatus lebih banyak terjadi pada ibu dengan paritas 1 dan > 3. Paritas 1 dan >3 mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Sama dengan hasil penelitian,  didapatkan kejadian Abortus Provokatus Di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar banyak terjadi pada paritas tersebut.


Jumlah Kejadian Abortus Provokatus di Rumah Sakit Umum Labuang Baji Makassar Periode Januari – Desember

PREVIEW PAGE : Bag. 4

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar